Senin malam seperti biasa, saya dan Paksu pulang bareng pakai motor. Dan selalu di jam makan malam. Lapar. Apalagi siang hari itu cukup melelahkan dan saya tidak makan siang dengan baik alias kurang puas dan kenyang hehehe.

Jadi sambil jalan, kami ngobrol random dan pilih-pilih mau makan malam di mana. Biasanya pilihan jatuh pada warteg, mie ayam, bakmi jawa, angkringan, atau pecel lele. Murah meriah dan cukup 😊.

Tapi kemarin entah angin apa yang membuat Paksu membawa saya makan di tempat ini. Eng ing eng.. doski parkir di Suis Butcher Steak House, di Jl LLRE Martadinata no. 201 Riau, Bandung 😍.

Sebenarnya sudah lama saya ‘minta’ diajak makan disini, karena Paksu sendiri sudah pernah menjajal menu disini bersama rekan kerjanya. Saya kan tidak puas hanya kebagian cerita saja. Saya masih ingat betul pesan dari bapak mamaknya Paksu dulu “kalau kamu makan enak, ingat anak istri”, ini adalah kata-kata pamungkas saya jika doski cerita soal makanan enak yang sudah pernah dicicipi dimanapun hehehe. Soalnya ingat sih ingat, ngajaknya itu yang jarang haha.

Kemarin kami duduk di bagian smoking area yaitu teras depan, ambil tempat duduk di pojok dekat lampu, sengaja biar terang untuk selfie, biar kesan romantisnya lebih terasa, hahaha.

Saat menu disodorkan, harganya tentu jadi perhatian, cukup. Cukup menguras kantong hehehe. Harga makanannya berkisar 50 – 150 ribu. Saya pilih Beef Cordon Bleu (panir tenderloin isi daging asap dan keju, disajikan dengan sayuran, kentang goreng dan saus barbeque) sementara Paksu pesan Selat Solo ( daging cincang burger bakar, disajikan dengan chip potato, wedges potato, butter rice, salad dan saus selat solo). Kedua menu ini harganya masih standar bawahnya. Untuk minumannya saya pilih Ice Cappuccino, as always, favorit dari masa ke masa.

Suasananya cukup nyaman, Bandung sedang tidak hujan, tapi angin cukup kencang bertiup. Saat menanti pesanan datang saya kok mencium aroma sate ya, lebih-lebih daripada aroma bakaran steak yang seharusnya saya nikmati. Sontak Paksu ketawa, karena jelas-jelas dimata beliau memang ada sate. Ternyata ada warung sate Anggrek di seberang Suis Butcher ini πŸ˜…, yang posisinya ada di belakang saya. Pantas saja karyawan Suis yang standby di depan saya, memindahkan kipas angin ke arah kami, padahal angin saat itu cukup untuk membuat udara lebih adem, ternyata untuk mengusir asap dan aroma bakaran sate tersebut. Hahaha sate dan steak bersaing, malah steak kalah aroma πŸ˜†.

Well kencan susulumput kami berjalan cukup santai dan hangat. Makanannya enak, harga lumayan, suasananya mantap. Berulang kali Paksu foto saya, serasa jadi model dadakan πŸ˜‚ (eneg ya sama tulisan yang norak ini, plis jangan muntah dulu ya, tahan, sedikit lagi selesai πŸ˜„). Mungkin karena sudah lama kami tidak makan romantis berdua saja, makan berdua biasa, tapi suasana dan tempat makan seperti ini jarang.

Eh tau susulumput ngga? Susulumput dalam bahasa Sunda artinya sembunyi-sembunyi. Karena makan enak berdua seperti ini kan berarti anak-anak dan Umi di rumah, tidak diberitahu dulu, karena pasti komplain kok pulang nya lama, hehehe. Beda dengan mereka yang meninggalkan anak-anak di rumah bersama nenek kakek nya, biasanya anteng, dan orang tua juga tidak merecoki anaknya yang bekerja di luar.

Makasih Paksu untuk makan malam nya. Adios, amigos dan permios kawan. Semangat menjalani hari 😘

13 tanggapan untuk “Kencan susulumput…

    1. Hehehe iya, sayang klo udah pesen steak tapi malah makan sate. Klo mau juga makan steak dulu, lanjut sate dibungkus πŸ˜†

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s