Siapakah orang yang paling sering kamu dustai?

Siapakah orang yang paling sering kamu sakiti?

Siapakah orang yang paling sering kamu berprasangka terhadapnya?

3 pertanyaan ini terus mengusik pikiran.

Dari sekian banyak orang dalam hidup kita, apakah kemudian jawaban dari ketiga pertanyaan di atas adalah orang terdekat kita? Cobalah menjawabnya dengan penuh pikir, dan dari hati kecil kita.

Sengaja atau tidak jawabannya tetaplah orang-orang terdekat saya. Mendustai, kebohongan kecil dan besar sama saja, kita berbohong artinya menutupi sesuatu, keburukan, kekurangan atau kebusukan kita. Korban terdekatnya bisa jadi orang tua, pasangan, saudara, anak, ipar, sahabat, rekan kerja, tetangga atau bahkan diri sendiri. Manipulasi diri, bukankah itu berarti merosotnya nilai diri?

Menyakiti, objeknya cenderung orang yang lebih lemah dari kita. Lebih lemah secara fisik, kedudukan, kekuatan, atau hanya berdasarkan penilaian subjektif kita. Bisa pasangan, anak, saudara, asisten rumah tangga, bawahan, junior di organisasi atau pekerjaan, atau bahkan orang tua. Menyakiti juga bukan hanya berupa kekerasan fisik, kekerasan verbal bahkan lebih melukai. Pandangan meremehkan atau seloroh yang merendahkan juga adalah bentuk menyakiti. Sebuah kezaliman yang tidak kasat mata. Seperti goresan kertas HVS, tau tau perih.

Lalu prasangka. Prasangka hanya mengotori hati. Kita bahkan membuat sebuah jawaban sebelum sebuah pertanyaan selesai dilontarkan. Pikiran penuh asumsi, kalau prasangka baik harus, yang jadi kebiasaan adalah berprasangka buruk. Prasangka buruk mematikan pandangan objektif. Mencari kesalahan dan kejelekan orang lain, menjadikan hati gelisah. Bukankah kita sendiri juga penuh kesalahan dan banyak kejelekan. Jika setiap akal sadar buruknya diri, kita mungkin akan jauh lebih sibuk memperbaiki diri daripada menilai kejelekan orang lain.

Jawaban saya untuk 3 pertanyaan itu, ya saya sering menyakiti orang terdekat saya. 😷. Betapa buruk dan busuknya hati, bersembunyi dibalik tameng prasangka baik orang lain terhadap saya. Saya tidak sebaik itu, tapi akan merasa kesal jika dianggap buruk. Dasar manusia! Human being jadi tumbal. Tuman yang ada!


By the way, tau artinya tuman nggak? Yang sedang viral itu loh. Tuman itu dalam bahasa Sunda seperti ungkapan untuk orang yang punya kebiasaan buruk dan namanya kebiasaan ya terus berulang. Dimaafkan sekali, nanti akan diulang lagi. Kebiasaan! Ternyata di KBBI juga ada.

Iklan

4 tanggapan untuk “

  1. Haii Kak…
    Sengaja atau tidak aku juga pasti menyakiti orang-orang di sekitarku. Bahkan, demikian juga bagi mereka. Sengaja atau tidak mereka juga menyakitiku. Tapi, aku selalu berusaha memaafkan mereka. Pasti mereka juga ada pikiran untuk memaafkan.
    Kak, salam kenal ya…
    Aku dari 1m1c juga…
    Ditunggu blog walking ke blog-ku juga ya Kak.

  2. 3 pertanyaan diatas bisa jadi media self healing juga nih, mengobati diri dari peristiwa masalalu yang ngganjel buat jalannin masa depan..

    Nice thought, Mba Hilma..
    Salam Kenal ya, πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s