Okeh pemirsah, jangan bosan baca cerita saya tentang elf ya, hehe.

Kamu tau elf kan? Bukan elf peri yang rupawan itu, melainkan minibus yang kerap dijadikan mobil angkutan antar daerah, juga kerap dipakai agen travel. Elf dipilih karena ukurannya yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk mengangkut sampai 16 orang. Jenis minibus ini hemat bahan bakar, sehingga bisa menekan biaya operasional. Juga karena elf dibekali performa tangguh dan handal dalam setiap kondisi, serta elf memiliki tenaga yang besar yang membuatnya lebih cepat dan ringan dalam melakukan akselerasi.

Gambar dari tribunjualbeli.com

Ini jaminan standar kenyamanan dari penyuplai jenis kendaraan ini, biasanya bisa didapatkan jika kita naik travel. Tapi pernahkah kawan-kawan naik elf, angkutan umum antar daerah? Kalau yang sudah ya pasti tau arah tulisan saya ini πŸ˜„.

Normalnya elf kan hanya untuk menampung 16 penumpang, 3 baris x 4 penumpang, plus 2 sejajar pintu, dan 2 penumpang di sebelah supir. Tapi kenyataannya semua baris ditambah satu penumpang, belum lagi tambahan bangku ekstra yang menghadap ke belakang. Jika penumpang sedang membludak, kursi depan bisa ditambah satu lagi, menyusup di sebelah pak supir.

Bayangin deh kalau kita sebagai orang yang paling akhir naik, harus nyempil dan hanya kebagian ujung kursi berbentuk segitiga sama kaki seluas telapak tangan. Yang menderita adalah lutut, terpaksa menahan berat badan agar posisi “duduk” ini bisa bertahan sampai tujuan, minimal sampai salah satu penumpang turun, saat turun nanti kaki saya sudah baal alias mati rasa, karena terlalu lama kesemutan. Tak jarang saya harus ikut berdiri di pinggir pintu agar tetap bisa ikut elf tersebut bersama beberapa pria atau keneknya, karena menunggu elf selanjutnya akan makan waktu lama dan dengan kondisi tidak jauh beda.

Gambar dari pintaram.com

Sebenarnya kawan-kawan yang pernah naik KRL, bis kota, metromini atau jenis kendaraan umum berukuran besar sih sudah biasa ya berjejalan diantara penuhnya penumpang. Bedanya elf dengan bis, ukurannya yang lebih kecil membuat kita penumpang berdesakan dalam posisi duduk, sementara penumpang yang berdiri hanya di pintu, serta di elf tidak ada AC. Elf jarang menutup pintu masuknya untuk memudahkan naik turunnya penumpang. Alhasil jika melewati jalan tol, kami akan mendapatkan AC alami yaitu AG alias angin gelebuk, haha. Kalau hujan, AG nya ya plus air hujan deh.

Kalau membahas kecepatan, beeuuuhh jangan ditanya. Wussshhhh. Membuat saya berulangkali istigfar dan terkadang menginjak ‘rem’ di kaki saya, meski tidak berpengaruh hehe. Sekali waktu saya berada di belakang supir dan memperhatikan rpm, terendah 80 dan paling tinggi 140. Edan kali lah pokoknya. Biasanya kalau supir malam, mereka akan lebih edan memacu kendaraan daripada supir pagi, lebih adem walaupun tidak berarti lambat juga. Hanya terasa lebih aman, sedikit lah 😬.

Masih banyak cerita seputar elf sih. Seperti supir yang kadang mengantuk atau supir yang mengemudi dalam pengaruh alkohol (big no no), penumpangnya yang sangat beragam, dan tarif elf yang bisa naik turun sesukanya. Kok banyak kurangnya ya, hehehe. Sebenarnya diantara begitu banyak hal, masih ada satu kebaikan di dalamnya, yaitu hemat waktu. Eh satu saja apa masih ada ya 😁, pasti masih ada hanya saya tidak menggali lebih banyak hehe.


Tulisan ini bukan ide yang fresh sebenarnya, kekakuan saya untuk memulai kembali rutinitas bercerita di sini sangat mengganggu. Ibarat naik elf tadi, jari saya masih kebas atau baal, walaupun dari otak saya terus berloncatan kata-kata, entah rasionalitas yang meluruhkannya, tapi sesuatu terjadi bukan begitu saja, perlu pemantiknya. Saya terus saja mencari alasan untuk apapun, tapi kemudian saya tersesat dalam pencarian alasan itu.

Bahkan ini saya pos hanya agar saya tidak perlu mencari alasan untuk ‘bolos’nya saya di komunitas 1m1c, atau ini juga menjadi alasan untuk saya tetap menapaki kenyataan. Seperti menontoni mimpi dengan dirimu menjadi pelakunya, tapi saat kamu menjadi si pelakon mimpi kamu sadar kamu dalam keadaan bermimpi. Mimpi dalam mimpi, atau kesadaran mimpi dalam mimpi, seperti ini, tulisan tambahan yang menjejali tulisan utama dan menjadi benalu. Baiklah, mari berhenti mengoceh. Mari berdoa sebelum tidur, agar tidak perlu ada kesadaran mimpi dalam mimpi, aahh.

Adios amigos permios. πŸ•™πŸ’€

Iklan

3 tanggapan untuk “Elf… Not a fairy tale

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s