Judulnya mah biar rame aja, pakai English 😅.

Sabtu pagi kemarin sekitar jam 08.00 kami mendarat di Pasar Ujung Berung, Paksu memarkir motor di parkiran Alun alun Ujung Berung, di sisi barat pasar, karena tempat parkir lain yang tak berapa besar sudah penuh. Berempat ayah, ibu dan dua anak, kami menjelajahi pasar tradisional itu. Anak-anak jarang sekali diajak ke pasar tradisional, entah apa yang mereka ingat tentang ini sebelumnya, sehingga mereka antara antusias dan tidak menyambut ajakan kami pagi itu.

“Kapan terakhir kamu masuk pasar Ma?” tanya Paksu kepada saya. Weeh, saya sampai lupa kapan waktu terakhir itu teh.

Saya akui, saya sangat jarang masuk pasar tradisional. Banyak alasan sih, jam kerja yang panjang, lokasi rumah yang lumayan jauh ditambah saya yang tidak mobile, apalagi di Bandung ini Mang sayur lah yang menyambangi para pembeli, tambah lagi ada pasar kaget tiap hari Minggu di gerbang komplek yang memudahkan warganya untuk berbelanja kebutuhan pokoknya.

Sementara itu Paksu sangat biasa dengan pasar tradisional, doi bahkan pernah bilang kalau dirinya menyukai bau aroma pasar yang khas 😬. Semua karena doi terbiasa dengan pasar, dulu orang tuanya adalah pengusaha tahu, memasok untuk banyak langganan juga memasarkan sendiri di pasar. Oleh karenanya Paksu dan saudaranya sangat familier dengan suasana pasar. Pasar bagi kami punya sisi nostalgia. Bagi Paksu ya tentu banyak sekali kenangan. Pasar mengingatkannya pada ibunya tentu saja.

Kami berdua berasal dari daerah yang sama, Padang panjang. Sebuah kota kecil di Sumatera Barat, kota penghubung Bukittinggi – Padang. Sangat kecil dalam hitungan geografis juga volume kependudukan. Satu-satunya pusat keramaian adalah pasar Padang panjang. Semua kegiatan perniagaan ada di sana, tidak ada pasar swalayan skala besar, bahkan kemunculan mini market pun dibatasi hanya untuk pengusaha lokal. Jadi pasar tradisional adalah satu-satunya pusat pertemuan orang-orang kota, juga dari wilayah sekitarnya. Pasar benar-benar jadi ‘makanan dan kehidupan’ masyarakat.

Saya pribadi jarang menjejaki pasar seorang diri dari dulunya. Jika bepergian sendirian maka saya akan membuat list barang yang dibutuhkan dan hanya akan mampir dan membeli barang sesuai list tersebut. Beda halnya jika bersama ibunda, rasanya semua gang pasar dilalui, tidak jarang mengitari tempat yang sama berulang karena lupa, dan saya pasti kewalahan mengimbangi kecepatan dan semangatnya, hehe. Paling seru sih jika pulang sekolah, bisa main dulu bersama kawan akrab, paling sering hanya berputar tak tentu arah, terkadang ada sesuatu yang ingin dibeli, seringnya kami membuat keputusan di tempat, beli tidak ya, makan tidak ya 😄.

So, kemarin kami memutar dalam areal pasar, maksud hati Paksu ingin membeli bahan untuk membuat soto Padang (ya ya, kalau sering mengikuti blog ini, pasti tau Paksu lebih suka masak, belanja dan nawar dibanding saya 😬). Pasar Ujung Berung ini lumayan besar dan lengkap untuk wilayah Bandung timur, selain Pasar Gede Bage yang merupakan pasar induk. Paksu sudah hafal betul peta lokasinya, dulu pasar ini adalah wilayah garapan pekerjaannya. Juga doi sering belanja sendiri atau ditemani Umi jika ingin belanja cukup banyak untuk stok bahan makanan dan sayuran juga bumbu dapur.

Saat mengelilingi pasar, celetukan anak-anak sangat menghibur kami.

“Pah, kenapa jalannya sama terus daritadi?” tentu saja, semua gang pasar hampir sama bentuknya, hanya dagangannya yang berbeda.

Saat di kios daging, Paksu sibuk memilah jeroan, anak-anak malah menemukan satu mata sapi. Besar dan kenyal. Bergantian mereka menyentuh dan menertawakan segala hal yang baru bagi mereka itu.

Lalu saat di kios bumbu dapur giling, saat melihat bawang merah, Dede menyebutnya bawang ungu. Kemudian menemukan bawang bombai, yang kemudian saya namakan bawang bom… bai. Mereka hanya mengingat bom, sedikit banyak menyerupai hehe.

Lanjut saat di kios makanan basah dan kelontongan, kami membeli beberapa makanan kecil untuk anak-anak. Saat ibu pemiliknya menyebut harga satu persatu plus kalkulasi, Dede kembali celetuk “Mah, kok ngga ada suara tiit tiit nya?” hahaha, dasar bocah milenial, tak kenal kalkulator bibir, tahunya swalayan yang menghitung dengan sensor kode batang.

Ini jajanan favorit emaknya dari kecil nih, jadi mak beli ini deh, hehe

Belanja ke pasar tradisional memang sudah mulai ketinggalan jaman bagi sebagian orang. Tapi di pasar, semua hal bisa dicari, tentu dengan harga yang sesuai. Masih terdapat seni tawar menawar, memilah barang terbaik dengan harga standar, kita tidak perlu merasa segan untuk melirik barang dagangan karena para penjual akan melayani dengan baik, tanpa tatapan mengecilkan calon pelanggannya (ngaku deh, kawan-kawan suka merasa enggan ngga sih saat berbelanja di mal? Atau saya aja ya hehe?). Ya meskipun pasar tradisional itu identik dengan becek, bau, dan sumpek tapi harusnya masih banyak kebaikan yang bisa menutup kekurangan yang seperti itu.

By the way, dimana letak romantisnya ya? Haha dari awal tulisan ini maksa banget judulnya. Bagi saya menemani Paksu itulah bagian romantisnya, dia selalu memastikan mendapatkan hal terbaik bagi kami, padahal kondisinya sendiri tidak terlalu fit (saya manja sekali ya). Melihat dia memilih, menawar, membimbing kami agar tidak tersesat itulah intinya. Oke oke saya maksa pisan ya. Haha ini karena tema romantis yang diusung oleh 1m1c yang membuat saya kepayahan untuk membuat sebuah tulisan seputar romantisme, sementara saya sempat down, dan kehilangan semangat menulis. Ini bahkan baru bisa saya unggah jam 22.55.

Adios amigos dan permios

Iklan

4 tanggapan untuk “Romance at the traditional market..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s