Ini awalnya gegara saya yang kebiasaan celetuk si Moshi lagi SMA, si kucing yang sedang bertumbuh menjadi lebih dewasa. Ingat soal kucing remaja yang sedang bergairah, tapi malah gagal kawin? Sebelum Moshi beger saya bilang Moshi masih SMP, sekarang naik sedikit jadi SMA, nah karena ini Babang jadi penasaran.

Berulangkali ia tanya,

“Mah, si Moshi sekarang teh sekolahnya apa?”

“SMA bang”

“Oooh”

Lalu mikir lagi..

“Mah, sekolah teh kan SD, terus..? ”

“SMP”

“Eh iya, SMP terus SMA ya, terus apalagi Ma?

“Kuliah”

“Kuliah teh apa?”

“Kuliah itu sekolah tinggi Bang, sekolahnya udah ga pake seragam, kaya T Ran waktu itu”

“Oooh. Terus apalagi Ma?”

“Kerja!”

“Oh iya, kerja terus nikah, terus punya anak ya. Eh terus Babang kapan jadi pilotnya?”

“Ya nanti, pas Babang kerja itu, Babang kerjanya sesuai cita-cita Babang. Gituuu.. ”

Question dan answer alias percakapan ini tidak cuma sekali, melainkan sering berulang, karena Babang belum hafal masing-masing tahapan. Tapi kemudian saya menyadari, jika saya terus menggiring pemahaman tahapan kehidupan seperti ini, maka sejarah juga akan berulang. Karena jujur saya dan semua saudara saya menjalani tahap yang sama. Sekolah standar, SD, SMP, SMA semuanya negeri kemudian kuliah dan kerja. Dua adik saya tidak di SMP tapi MTS dengan pengajaran agama yang lebih besar porsinya daripada SMP, hanya itu yang berbeda tapi cukup berpengaruh terhadap kehidupan selanjutnya.

Gambar dari pixers.es

Kenapa saya membahas ini, karena kami (saya dan saudara saya) menjalani hidup yang standar pula pada akhirnya, sekolah, kuliah, kerja, menikah dan berumah tangga. Saya bukan tidak bersyukur, toh sudah sedemikian rupa orang tua kami menjamin kerberlangsungan semua tahapan pendidikan standar itu, kami berempat punya gelar Sarjana, tapi bukan itu poinnya. Bagi orang tua saya terutama ibunda, sekolah itu adalah perjuangan, beliau berasal dari keluarga yang sulit finansial, ibu dan ayahnya berpisah, dan kemudian tanpa banyak pilihan beliau jadi seorang PNS guru. Stereotipnya seorang PNS di daerah kecil, akan berharap anaknya juga menjadi PNS, beliau punya standar sukses sendiri. Begitu juga standar pendidikan untuk anak-anaknya agar menjadi ‘orang berguna’ kelak.

Tapi tidak ada yang namanya pemahaman apa itu passion, bakat dan kualifikasi dan kompetensi anak secara detail. Yang penting sekolah, belajar belajar belajar, hasilnya berprestasi dan berijazah. Tapi kemudian kami (3 dari 4) terombang ambing saat terlempar ke dunia nyata. Dunia pekerjaan seperti sungai arus deras dan kami tak bisa berenang, kami tak punya kompetensi lebih, tidak punya skill yang jadi nilai jual.

“Aaah itu kalian saja yang tidak berusaha lebih baik, padahal punya kesempatan besar, kalian kuliah tapi menjadi percuma karena tidak maksimal. Usaha dong, makanya sekolah itu fokus!”

Apakah ada yang berpendapat demikian?

Sebagai orang tua, kita punya andil yang sangat besar dalam mengarahkan dan mempengaruhi pilihan-pilihan anak dalam hidupnya. Seorang teman dekat saya di awal kuliah mengaku bahwa dia berkuliah disana sebagai ‘pelarian’. Karena dia menghindari arahan ibunya yang menginginkan dia menjadi seorang bidan. Sampai kelas 2 SMA, dia punya keinginan yang sama untuk jadi bidan, tapi kemudian gejolak hormon remaja muncul dan dia menjadi pemberontak, tiba-tiba opsi menjadi sangat banyak, dan dia memutuskan berbelok dan ambil kuliah di tempat kami, fakultas ilmu sosial dan politik. Jauh berseberangan dengan tujuan awal.

Tapi kemudian tidak sampai 1 tahun ia menyadari bahwa orang tuanya benar, ibunya mengenal dirinya lebih baik, paham anaknya punya sisi caretaker yang kuat. Setahun saja ia berkuliah disana, kemudian kembali pulang, ikut ujian masuk sekolah kebidanan, dan sekarang ia sudah menjadi seorang bidan sesuai arahan orang tuanya dan sesuai kemampuanmya, dan dia sangat enjoy.

Semua orang tua pasti berharap yang terbaik bagi anak-anaknya. Tetapi tanpa memahami siapa dan bagaimana kemampuan anak, harapan tersebut akhirnya hanya diganjar dengan kenyataan bahwa ‘cukup’ anaknya punya pekerjaan untuk menghidupi diri dan keluarganya kelak. Begitu pun sang anak hanya menjalankan kehidupan yang flat, tanpa mewujudkan cita-cita yang terus ditanya sepanjang usia mudanya.

Tidak sedikit kawan dan kenalan yang sedikit menyesalkan kenapa dia tidak tahu lebih awal bahwa dia suka ini dan itu, dia bahagia melakukan sesuatu tapi terlanjur nyemplung di sebuah karir tanpa passion dan kepuasan, kebanyakan mereka menjalani level karir karena sudah waktunya atau usia kerja, sudah takdirnya demikian.

Gambar dari pondokislami.com

Banyak sekali pilihan, apabila kita mau mencari tahu, sekolah formal, negeri atau swasta, sekolah alam, internasional, berbasis islam, islam terpadu sampai sekolah tahfiz. Ada sekolah umum dan kejuruan. Ada sekolah ekstra seperti sekolah seni dan musik, robotik, olahraga, bela diri, dan banyak lainnya. Di luar negeri, terutama Eropa sana, penjurusan minat dan bakat anak bahkan lebih awal, di Belanda setingkat

Ayo kita lebih peduli dan kenali potensi anak-anak lebih awal, agar waktu mereka tidak percuma menjalani kehidupan dan pendidikan tanpa tahu keinginan dan kemampuannya, agar mereka punya masa depan lebih baik dalam arti nyata. PR besar bagi saya tentunya, semoga saya bisa memperbaiki semangat dan memulai langkah baik untuk anak-anak saya. Karena kalau ditanya apakah saya sudah menjadi se-ideal itu sebagai orang tua? Belum, masih sangat jauh panggang dari api.


Salam hangat buat para orang tua yang terus berupaya yang terbaik untuk anak-anaknya, semangat!

Adios amigos, dan permios.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s