Hari Minggu serunya ngobrolin soal makanan enak ya. Apalagi Bandung diguyur hujan deras dari tadi siang, makan mie baso super pedas plus minuman hangat mantul pisan lah. Tapi saya sedang tidak ada bahan cerita soal baso enak kali ini.

Hari Rabu kemarin, saya dan Paksu pulang bareng pakai motor seperti biasa. Melewati rute tengah kota Bandung, dengan kondisi gerimis manis. Tanpa jas hujan kami terobos si hujan kecil berkawan banyak ini, dingin, dan lapar, hehehe. Jadilah sembari jalan, mata gerilya mencari tempat makan yang enak dan murah meriah, sebisa mungkin cari yang jenis rendah karbo. Sampailah kami di sekitar Jl Pahlawan, dulu waktu kuliah saya pernah ngekos di Jl Sukasenang, masih kawasan Jl Pahlawan ini. Paksu pun pernah ngekos di sekitar kawasan ini, jadi walaupun banyak perubahan, secara garis besar tempat jajanan dan suasananya bagi kami masih terasa sama.

Satu tempat makan favorit yang dituju ternyata tutup, padahal masih pukul 19:00 kurang lebih. Kami lanjut lagi menuju satu tempat makan ala anak kuliahan. “Kembang Warkop Barokah” namanya. Berlokasi di depan kampus ITENAS di Jalan PHH Mustofa Bandung. Ini mah rasa kampus dan anak kos banget. Lokasi sudah jelas, pilihan menu juga harga yang jadi pembeda.

Biasanya warkop menyediakan bubur kacang ijo plus ketan item, telur setengah matang dan segala macam jenis kopi, kebanyakan jenis sachetan. Tapi menu disini adalah omelet orak arik plus nasi, telor kornet nasi, plus tambahan mayones. Ada juga roti telor kornet dan roti dengan toping manis. Belum aneka pilihan minuman dan jus dengan harga standar, belum pakai Ppn, kan masih kelas warkop cuy, hehehe. Dulu saya biasa membeli jus semangka susu disini, biasanya porsinya jumbo, dua kali lebih banyak daripada beli di tempat jus lainnya.

Saya pesan roti telor+kornet+mayones tambah es cappuccino sementara Paksu pesan telor kornet nasi (lots of carb btw 😁 cheating day deh). Sambil menunggu pesanan, foto-foto dulu ya 😊. Warkop ini cukup sempit, hanya ada satu meja yang mungkin hanya muat untuk 4 orang di dalam, sementara di luar disediakan beberapa kursi plastik. Biasanya yang melayani 2 lelaki usia muda, kali itu hanya seorang ‘chef’ dan ibu-ibu yang melayani pesanan pelanggan.

Oh ya selain menu yang dipajang, mereka juga menyediakan gorengan. Seorang mahasiswa memasukkan 3 potong gorengan ke dalam plastik, ditambah siraman saos. Citarasa jajanan jelata hehehe. Lalu jeng jeng.. datanglah pesanan saya dan Paksu.

Roti telor+kornet+mayones

Telor kornet+nasi

Saat kami datang pas lagi kosong, sehingga bisa duduk di dalam. Bergantian pelanggan datang, tentu saja kebanyakan mereka anak kuliahan, kami berdua adalah penyusup, berpura-pura cukup muda untuk nge-blend di antara mereka, haha. Kadang saat lewat, antrean pembeli cukup banyak berdiri di depan warkop ini.

Selesai makan kami membayar 26.000 rupiah saja. Perut kenyang, hujan reda, dan kami masih muda, hahaha 😄.


Hujan masih saja mengguyur Bandung. Tarik selimut masih kepagian hehe. Nonton korea dulu berarti, ahay.

Adios amigos, permios.


Perdana setor di 1m1c. Semoga bisa konsisten.

Iklan

11 tanggapan untuk “Tempat makan nostalgia

      1. Maklum sih ya, dekat dengan kampus. Btw.. itu nama Kembang, apakah ada artinya atau hanyalah sebuah nama. Soalnya disini ada yang bernama Pasundan Cafe, dimana Pasundan berarti miliknya orang Sunda .

        1. Waah ini harus saya tanyain langsung ke pemiliknya nih mas. Saya juga baru tau namanya pakai kembang saat searching di map, tanpa kembang mereka bukan siapa2 hehe karena warkop barokah nama yang pasaran. Tadinya niat awal saya mau bikin ulasan di google map gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s